Sebagai seorang manusia biasa, sebagai hamba Allah SWT yang memang secara fitrah diciptakan menjadi lemah, pastilah sering ditimpa ujian/cobaan atau apalah namanya. Saat dalam keadaan seperti itulah kita rentan sekali dimasuki syaitan. Seringkali ketika kita dalam keadaan sempit kita bukan bersyukur tapi tersungkur lemah. Bahkan tak hanya tersungkur ''lemah'', tapi seringkali mengungkapan ''ungkapan-ungkapan" aneh kata saya. mencaci maki diri sendiri karena ketidakberdayaan kita, menyalahkan orang lain dan yang paling parah lagi adalah menyalah kan TUHAN (masya Allah...).
Pernahkah kita berpikir bahwa kesulitan yang kita rasakan tidak seberat sahabat kita misalnya. Apa sih yang justru membuat kita semakin "tersungkur"?. Karena kita hanya fokus pada sesuatu yang membuat kita sempit!. Pernahkah kita dalam keadaan sempit justru kita "gencar" bersilaturahmi?. Pernahkah saat kita sulit justru kita semakin "kenceng" berbagi dengan sesama?. Atau paling tidak ketika kita sedang dikelilingi masalah, kita justru menjadi "pendengar setia" bagi sahabat-sahabat kita yang bisa jadi mereka lebih "terjepit" dari pada kita. Ternyata ketika kita mau menjadi seorang "pendengar" kita akan semakin menjadi orang yang kuat dengan "syukur". Wallahu'alam
Sebuah kisah yang mungkin bisa menginspirasi kita semua (mudah-mudahan) :
Ada seorang yang sedang dalam keadaan benar-benar sempit, sebut saja Embun. Embun adalah orang yang mungkin saat itu sedang dalam lingkaran masalah. Masalah di keluarganya, pekerjaannya yang mungkin menumpuk dan aktifitasnya di luar itu semua. Hari-harinya mulai tidak produktif lagi. Pekerjaannya kacau satu per satu, bahkan kalau biasanya ia memadatkan jadwal, saat itu benar-benar "macet" karena tak satupun yang ia kerjakan. Hal itu terjadi beberapa lama (rugi yah?). Singkat cerita, suatu malam ia dihubungi seorang sahabatnya untuk makan malam. Dengan keterpaksaan ia memenuhi undangan sahabatnya itu. Nah..!! disitulah dimualai, sahabatnya bercerita semua yang dia alami dua pekan terakhir. Masalah-maslah yang bertubi-tubi datang menghampirinya. Kurang Lebih 2 jam mereka bersama. Lantas apa yang terjadi??. Sepanjang sahabatnya bercerita Embun menangis (Nah lo.. sp yg harusnya nangis?). Dalam hatinya terus mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Tahu.
"Yaa Rabb... Sungguh ternyata di luar sana masih ada hamba-hamba Mu yang lebih sempit keadaannya dari diri ini"
Yuuk... renungkan masalah-masalah kita dengan pikiran yang jernih dan selalu berpikir positif atas ketentuan Allah. Bahwa setiap ujian yang Dia berikan hanyalah bagian kecil dari ujian-ujian Nya yang lain. Jika kita tak bisa menghadapi dan menyelesaikan ujian yang "kecil" ini maka kita pun tidak akan mampu menghadapi dan menyelesaikan ujian-ujian kita berikutnya yang lebih berat. Lantas kapan kita naik derajatnya di hadapan Allah SWT?. Kawan.. yakinlah bahwa apapun skenario yang Allah berikan pada kita, itulah bentuk kasih sayang Nya pada kita.
Wallahu'alam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar