JUDUL : PENGARUH KEBIJAKAN TOP DOWN TERHADAP KEMAJUAN INDUSTRI PERSUSUAN INDONESIA
I. PENDAHULUAN
Kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan di
beberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan
agribisnis persusuan. Selain itu, dari sisi permintaan, produksi susu dalam
negeri masih belum mencukupi untuk menutupi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Saat ini produksi dalam negeri baru bisa memasok tidak lebih dari 30% dari
permintaan nasional, sisanya 70% berasal dari impor.
Untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri termasuk memasok permintaan
industri pengolahan susu diperlukan kerjasama antara peternak, koperasi,
industri pengolahan susu dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan.
Pembangunan subsektor peternakan merupakan
bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis. Salah satu
komponen dari subsektor peternakan yang memiliki banyak manfaat dan berpotensi
untuk dikembangkan di Indonesia adalah agribisnis persusuan. Dalam pembangunan
sektor pertanian terutama pada agribisnis persusuan yang berkelanjutan
diperlukan penguatan sosiokultural. Sosiokultural sebagai modal sosial meliputi
: ide, nilai, norma, sikap, perilaku (cognitive social capital), gotong
royong dan kelembagaan sosial ekonomi merupakan aspek penting untuk mengatur perilaku dan mengendalikan
pengelolaan sumberdaya secara arif dalam pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan
subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang
memiliki nilai strategis, antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang
terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan rata-rata
pendapatan penduduk, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Hal ini juga sejalan
dengan Kebijakan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang telah
dicanangkan oleh pemerintah. Menurut Wisadirana (2008) Pembangunan subsektor
peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan di Indonesia. Pembangunan
subsektor peternakan yang strategis diharapkan akan memberikan manfaat bagi
perkembangan bangsa Indonesia termasuk dalam mencerdaskan bangsa.
Subsektor peternakan yang perlu dibangun dengan serius adalah
agribisnis dibidang persusuan. Permintaan susu dalam negeri belum tercukupi
oleh pasokan susu dalam negeri dan masih tergantung dengan bahan baku impor. Sebuah
data statistik menunjukan bahwa produksi susu di Indonesia masih rendah, pada
tahun 2005 dengan populasi 373.970 ekor sapi perah menghasilkan susu segar
341.986 ton/tahun. Produksi susu tersebut masih belum memenuhi kebutuhan susu
dalam negeri sebesar 1.427.000 ton/tahun, sehingga masih perlu impor susu 1.085.014
ton (76%). Dalam hal ina banyak kerugian-kerugian yang ditimbulkan dari
importasi produk-produk susu. Di antara kerugian tersebut ialah terkurasnya
devisa nasional, hilangnya kesempatan terbaik (opportunity loss) yang
berasal dari menganggurnya atau tidak dimanfaatkannya potensi sumberdaya yang
ada untuk pengembangan agribisnis persususan, dan hilangnya potensi revenue yang
seharusnya diperoleh pemerintah dari pajak apabila agribisnis persusuan
dikembangkan secara baik. Mengingat potensi sumberdaya alam Indonesia yang
besar bagi pengembangan agribisnis persusuan, adalah ironis jika sebagian besar
dari kebutuhan susu Indonesia masih harus diimpor. Dengan demikian, pemerintah
dan stakeholder lainnya perlu berupaya keras meningkatkan pangsa pasar
(market share) para pelaku pasar domestik dalam agribisnis persusuan
Indonesia (Daryanto, 2007).
Rendahnya produktifitas ternak perah
di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh ternaknya saja akan tetapi peran
penting jaga dipegang oleh Sumber Daya Manusia. Sumber daya manusia dalam hal
ini adalah peternak, akademisi dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Selama ini pemerintah dalam membuat kebijakan kurang memperhatikan penguatan
pada aspek sosiokultural. Penguatan sosiokultural adalah upaya memperkuat kapasitas
masyarakat dengan cara melatih dan mendidik untuk lebih memahami dan mengerti
fungsi sistem nilai dan norma pengatur perilaku. Konsep ini muncul, karena
pelaksanaan pembangunan dengan pendekatan top down yang lebih
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan nilai sosial budaya,
sehingga menyebabkan memudarnya kearifan lokal dan rusaknya sumberdaya.
III. PEMBAHASAN
Pembangunan peternakan saat ini adalah mengikuti pendekatan top down. Koperasi sebagi jembatan
antara peternak dan perusahaan industri pengolahan susu juga terkesan
mengikut pendekatan kebijakan top down baik yang diberikan oleh
pemerintah maupun Industri Pengolahan Susu (IPS). Dalam hal pemasaran susu dari peternak dalam
negeri, keberadaan Inpres No 4/1998 mengakibatkan posisi industri pengolahan
susu menjadi jauh lebih kuat dibandingkan peternak karena Industri Pengolahan
Susu mempunyai pilihan untuk memenuhi bahan baku yang dibutuhkan yaitu susu
segar dari dalam negeri maupun dari impor. Hal ini menyebabkan relatif
rendahnya harga susu segar yang diterima oleh perternak dalam negeri.
Permasalahan lain yang dihadapi peternak adalah
besarnya ketergantungan peternak terhadap Industri Pengolahan Susu dalam
memasarkan susu segar yang dihasilkannya. Dengan absennya keberpihakan
Pemerintah terhadap peternak, hal ini menimbulkan kecenderungan bahwa harga
susu segar yang diterima peternak relatif rendah. Adanya pemberlakuan standar
bahan baku yang ketat oleh kalangan Industri Pengolah Susu mendudukkan peternak
sapi perah pada posisi tawar (bargaining position) yang rendah. Keberadaan
Industri Pengolah Susu ini dapat menyebabkan terbentuknya struktur pasar
oligopsoni yang tentunya menekan peternak. Selain harga susu yang sangat murah
pada struktur pasar tersebut, tekanan yang diterima peternak semakin bertambah
dengan adanya retribusi yang diberlakukan oleh kebanyakan Pemerintah Daerah di era otonomi daerah
ini. Padahal menurut Santoso (2008) pengembangan
peternakan di era otonomi daerah akan sangat relevan guna menyediakan protein
hewani asal ternak yang bermutu tinggi
Bila melihat perkembangan agribisnis persusuan di
negara lain, peran koperasi sangatlah besar dalam mengembangkan usaha tersebut.
Di India, misalnya, koperasi susu telah berkembang sedemikian rupa sehingga
sampai saat ini kurang lebih telah berjumlah 57.000 unit dengan 6 juta anggota.
Begitu pula di Uruguay, dimana para peternak domestiknya telah mampu
memproduksi 90% dari total produksi susu nasional. Besarnya peran koperasi
tersebut belum terlihat di Indonesia. Koperasi susu kita mempunyai posisi tawar
yang sangat lemah ketika berhadapan dengan industri pengolahan susu, baik dalam
hal jumlah penjualan susu, waktu penjualan, dan harga yang diperoleh.
Kebijakan dengan pendekatan top down dapat menyebabkan sikap
masyarakat selalu tergantung pada pemerintah, kurang kreatif dan bersifat
menunggu, sehingga pembangunan peternakan sulit berkelanjutan, meskipun
sumberdaya ternak dan daya dukung bersifat renewable. Oleh karena itu,
agar berkelanjutan diperlukan peran nilai kearifan dan kualitas sumberdaya
manusianya yang bisa dilakukan melalui penguatan sosiokultural. Penguatan
sosiokultural pembangunan peternakan bisa dilakukan dengan penataan, pemantapan
dan pengembangan ide, nilai, norma, gotong royong, cognitive social capital dan
jaringan sosial ekonomi. Penataan, pemantapan dan pengembangan ide untuk
membangun peternakan berkelanjutan dapat dilakukan dengan mengubah ide dan
gagasan yang dulu dari pemerintah menjadi dari masyarakat atau pendekatan top
down menjadi bottom up planning. Untuk menata, memantapkan dan
mengembangkan nilai gotong royong melalui peningkatan jalinan kerjasama
kemitraan berkeadilan sosial dalam pengelolaan hutan bersama. Sedangkan
penataan, pemantapan dan pengembangan cognitive social capital bisa
malalui pemahaman arti hidup dalam hubungan dengan alam sekitar bersikap adi
luhung.
Memantapkan dan mengembangkan
jaringan struktur sosial ekonomi peternak dapat dilakukan dengan pembentukan
modal, meningkatkan partisipasi dalam pengelolaan koperasi, memotovasi kerja
untuk meningkatkan produktivitas dan melakukan penyambungan kembali hubungan
antar kelembagaan terkait yang telah terputus. Koperasi harus berperan aktif
dalam mendapatkan posisi tawar yang baik dengan Industri Pengolahan Susu,
karena dengan posisi tawar yang tinggi maka akan memotivasi peternak untuk
meningkatkan produktifitas ternaknya, dengan demikian industri persusuan
Indonesia akan maju. Selain itu kebijakan dengan pendekatan bottom up
planning perlu digerakan agar
peternak dan koperasi bisa menyalurkan idenya dan kreatifitasnya dalam mencapai
kesejahteraan mereka dan memajukan industri persusuan Indonesia.
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
KESIMPULAN
a) Kebijakan dengan pendekatan top down akan mengakibatkan posisi
tawar koperasi lemah terhadap industri pengolahan susu di Indonesia
b) Kebijakan dengan pendekatan top down mengakibatkan
ketergantungan peternak pada pemerintah
c) Pembangunan subsektor peternakan khususnya industri persusuan perlu
menguatkan aspek sosiokultural
4.2
SARAN
a) Sebaiknya pemerintah dalam membuat kebijakan memperhatikan aspek
sosiokultural dan dengan pendekatan bottom up planning
b) Pembangunan otonomi daerah perlu dikaji ulang kaitannya dengan dampak
positif dan negatif pada peternak.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto,
Arief. 2007. Persusuan
Indonesia: Kondisi, Permasalahan Dan Arah Kebijakan. WordPress.com, Diakses tanggal 27 Novenber 2010
Santoso,
Urip. 2008. Membenahi Sumber Daya Manusia
Peternakan Menyongsong Era Otonomi Daerah. WordPress.com/UripSantoso/author/. Diakses tanggal 27 Novenber 2010
Wisadirana, Darsono. 2008. Penguatan
Sosiokultural Sebagai Modal Sosial Untuk Mendukung Pembangunan Peternakan
Berkelanjutan. Http://www.google.com. Diakses tanggal 27 Novenber 2010
TUGAS TERSTRUKTUR
INDUSTRI PERSUSUAN

PENGARUH KEBIJAKAN TOP DOWN TERHADAP KEMAJUAN INDUSTRI
PERSUSUAN INDONESIA
OLEH :
PUTRI MEISARI
D1E008089
KEMENTRIAN PENDIDIKAN
NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL
SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar