Jazakumullah Khoir



_MENU "Catatan Kecil"_

Minggu, 27 Januari 2013

NUTRISI RUMINANSIA_KAMBING ETAWA



PENGARUH ASAM AMINO PEMBATAS DENGAN HIDROLISAT LIMBAH UDANG UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN KAMBING ETTAWA TERHADAP RUMEN DAN PASCARUMEN

I.     PENDAHULUAN
Asam amino merupakan komponen utama penyusun protein, dan dibagi dalam dua kelompok yaitu asam amino esensial dan non-esensial. Asam amino esensial tidak dapat diproduksi dalam tubuh sehingga sering harus ditambahkan dalam bentuk makanan, sedangkan asam amino non-esensial dapat diproduksi dalam tubuh. Asam amino umumnya berbentuk serbuk dan mudah larut dalam air, namun tidak larut dalam pelarut organik nonpolar. Lisin dan metionin merupakan asam amino pembatas yang sering digunakan dan sangat diperhatikan dalam campuran pakan ternak.
Udang adalah hewan yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Udang mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga hasil olahan udang seperti tepung udang dapat dijadikan sumber protein pakan ternak, khususnya ternak ruminansia. Bahkan limbah udang juga dapat dijadikan sumber protein.
Usaha memperbaiki daya guna pakan di samping perbaikan kualitas pakan prarumen juga harus ditunjang dengan perbaikan yang mendukung bioproses di dalam rumen dan pascarumen. Bioproses dalam-rumen sangat dipengaruhi oleh mikroba dalam rumen. Laju pertumbuhan mikroba maksimum dicapai apabila pasokan semua nutrisi prekursor tersedia dalam konsentrasi yang optimum. Pasokan asam amino pada ternak ruminansia yang berproduksi tinggi tidak cukup berasal dari protein mikroba rumen saja. Namun diperlukan juga pasokan protein yang berkualitas tinggi dan tahan degradasi di rumen. Hal ini berarti pada ternak ruminansia yang berproduksi tinggi komposisi protein menjadi penting.
II.  ISI
Limbah udang dapat digunakan sebagai sumber asam amino rantai cabang dan mineral sulphur. Limbah kepala udang sebagai sumber asam amino pembatas mempunyai keterbatasan dalam penggunaannya, karena mengandung khitin. Oleh karena itu, kualitas kepala udang dapat diperbaiki dengan cara fisik, biologi, maupun kimia. Pengolahan secara kimia dapat dilakukan secara hidrolisis dengan menggunakan HCI 6%, NaOH 3% dan H2O2 5%. Tujuan dari pengolahan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai kecernaan dan laju degradasi dalam rumen dan pascarumen, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ternak ruminansia.
Penelitian yang dilakukan oleh Arif Qisthon dan Kusuma Adhianto Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung ini dilakukan dalam dua tahap: tahap I adalah pengolahan limbah udang dengan hidrolisis dievaluasi secara in vitro. Tahap II adalah penentuan tingkat penggunaan hidrolisat limbah udang dievaluasi secara in vivo pada kambing peranakan ettawa jantan. Limbah udang yang digunakan berupa kepala udang.
Hasil penelitian dari Arif Qisthon dan Kusuma Adhianto menunjukkan bahwa:
a)      secara in vitro, hidrolisis limbah kepala udang dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), produksi volatile fatty acids (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen; hidrolisis menggunakan H202 5% di dalam ransum memberikan hasil terbaik yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan KCBO dan kadar NH3;
b)      secara in vivo, penambahan tingkat pemberian limbah kepala udang yang dihidrolisis dengan H202 5% di dalam ransum tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering, KCBK, produksi WA dan kadar amonia cairan rumen, serta pertambahan bobot tubuh kambing PE jantan.



III.   KESIMPULAN
Limbah udang yang mengandung protein cukup tinggi sebagai sumber asam amino rantai cabang dan mineral sulphur. Kualitas kepala udang dapat diperbaiki dengan cara kimia dapat dilakukan secara hidrolisis dengan menggunakan HCI 6%, NaOH 3% dan H2O2 5% dengan tujuan untuk meningkatkan nilai kecernaan dan laju degradasi dalam rumen dan pascarumen, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ternak ruminansia.
Pengolahan limbah udang dengan hidrolisis dievaluasi secara in vitro menggunakan H202 5% di dalam ransum menunjukkan adanya peningkatan KCBO dan kadar NH3. Sedangkan secara in vivo, penambahan tingkat pemberian limbah kepala udang yang dihidrolisis dengan H202 5% di dalam ransum tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering, KCBK, produksi WA dan kadar amonia cairan rumen, serta pertambahan bobot tubuh kambing PE jantan.

REFRENSI
Sitompul, S. 2004. Analisis Asam Amino dalam Tepung Ikan dan Bungkil Kedelai. Buletin Teknik Pertanian. Bandung. Vol.9 nomor 1.
Suharsono. 1970. Biokimia. Erlangga. Jakarta. hlm.33-45
Qisthon, A dan Adhianto, K. 2007. Optimalisasi Bioproses Rumen dan Pascarumen melalui Suplementasi Asam Amino Pembatas dengan Menggunakan Hidrolisat Limbah Udang untuk Meningkatkan Pertumbuhan Kambing Peranakan Ettawa Jantan. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Lampung


Tidak ada komentar: