PENGARUH ASAM AMINO PEMBATAS DENGAN HIDROLISAT
LIMBAH UDANG UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN KAMBING ETTAWA TERHADAP RUMEN DAN PASCARUMEN
I. PENDAHULUAN
Asam amino
merupakan komponen utama penyusun protein, dan dibagi dalam dua kelompok yaitu
asam amino esensial dan non-esensial. Asam amino esensial tidak dapat
diproduksi dalam tubuh sehingga sering harus ditambahkan dalam bentuk makanan,
sedangkan asam amino non-esensial dapat diproduksi dalam tubuh. Asam amino
umumnya berbentuk serbuk dan mudah larut dalam air, namun tidak larut dalam
pelarut organik nonpolar. Lisin dan metionin merupakan asam amino pembatas yang
sering digunakan dan sangat diperhatikan dalam campuran pakan ternak.
Udang adalah
hewan yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang
dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar
baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari
dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Udang mengandung protein yang cukup tinggi,
sehingga hasil olahan udang seperti tepung udang dapat dijadikan sumber protein
pakan ternak, khususnya ternak ruminansia. Bahkan limbah udang juga dapat
dijadikan sumber protein.
Usaha memperbaiki daya guna pakan di
samping perbaikan kualitas pakan prarumen juga harus ditunjang dengan perbaikan
yang mendukung bioproses di dalam rumen dan pascarumen. Bioproses dalam-rumen
sangat dipengaruhi oleh mikroba dalam rumen. Laju pertumbuhan mikroba maksimum
dicapai apabila pasokan semua nutrisi prekursor tersedia dalam konsentrasi yang
optimum. Pasokan asam amino pada ternak ruminansia yang berproduksi tinggi
tidak cukup berasal dari protein mikroba rumen saja. Namun diperlukan juga
pasokan protein yang berkualitas tinggi dan tahan degradasi di rumen. Hal ini
berarti pada ternak ruminansia yang berproduksi tinggi komposisi protein
menjadi penting.
II.
ISI
Limbah udang dapat digunakan sebagai
sumber asam amino rantai cabang dan mineral sulphur. Limbah kepala udang
sebagai sumber asam amino pembatas mempunyai keterbatasan dalam penggunaannya,
karena mengandung khitin. Oleh karena itu, kualitas kepala udang dapat
diperbaiki dengan cara fisik, biologi, maupun kimia. Pengolahan secara kimia
dapat dilakukan secara hidrolisis dengan menggunakan HCI 6%, NaOH 3% dan H2O2
5%. Tujuan dari pengolahan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai kecernaan
dan laju degradasi dalam rumen dan pascarumen, sehingga dapat meningkatkan
pertumbuhan ternak ruminansia.
Penelitian yang dilakukan oleh Arif
Qisthon dan Kusuma Adhianto Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung ini dilakukan dalam dua tahap: tahap I adalah pengolahan
limbah udang dengan hidrolisis dievaluasi secara in vitro. Tahap II
adalah penentuan tingkat penggunaan hidrolisat limbah udang dievaluasi secara in
vivo pada kambing peranakan ettawa jantan. Limbah udang yang digunakan
berupa kepala udang.
Hasil penelitian dari Arif Qisthon dan
Kusuma Adhianto menunjukkan bahwa:
a) secara
in vitro, hidrolisis limbah kepala udang dalam ransum berpengaruh nyata
(P<0,01) terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik
(KCBO), produksi volatile fatty acids (VFA) dan kadar amonia (NH3)
cairan rumen; hidrolisis menggunakan H202
5% di dalam ransum memberikan hasil terbaik yang ditunjukkan dengan adanya
peningkatan KCBO dan kadar NH3;
b) secara
in vivo, penambahan tingkat pemberian limbah kepala udang yang
dihidrolisis dengan H202
5% di dalam ransum tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap konsumsi bahan
kering, KCBK, produksi WA dan kadar amonia cairan rumen, serta pertambahan
bobot tubuh kambing PE jantan.
III.
KESIMPULAN
Limbah udang yang mengandung protein
cukup tinggi sebagai sumber asam amino rantai cabang dan mineral sulphur. Kualitas
kepala udang dapat diperbaiki dengan cara kimia dapat dilakukan secara
hidrolisis dengan menggunakan HCI 6%, NaOH 3% dan H2O2 5%
dengan tujuan untuk meningkatkan nilai kecernaan dan laju degradasi dalam rumen
dan pascarumen, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ternak ruminansia.
Pengolahan limbah udang dengan
hidrolisis dievaluasi secara in vitro menggunakan H202
5% di dalam ransum menunjukkan adanya peningkatan KCBO dan kadar NH3.
Sedangkan secara in vivo, penambahan tingkat pemberian limbah kepala
udang yang dihidrolisis dengan H202
5% di dalam ransum tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap konsumsi bahan
kering, KCBK, produksi WA dan kadar amonia cairan rumen, serta pertambahan
bobot tubuh kambing PE jantan.
REFRENSI
Sitompul,
S. 2004. Analisis Asam Amino dalam Tepung
Ikan dan Bungkil Kedelai. Buletin Teknik Pertanian. Bandung. Vol.9 nomor 1.
Suharsono.
1970. Biokimia. Erlangga. Jakarta.
hlm.33-45
Qisthon,
A dan Adhianto, K. 2007. Optimalisasi Bioproses Rumen dan Pascarumen
melalui Suplementasi Asam Amino Pembatas dengan Menggunakan Hidrolisat Limbah
Udang untuk Meningkatkan Pertumbuhan Kambing Peranakan Ettawa Jantan. Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Lampung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar