Jazakumullah Khoir



_MENU "Catatan Kecil"_

Minggu, 27 Januari 2013

NUTRISI RUMINANSIA



Buah Lerak Mengurangi Emisi Gas Metana pada Rumen Hewan Ruminansia

Senyawa saponin pada buah lerak telah berhasil diekstraksi dan dikemas menjadi produk Aksapon SR. Senyawa ini efektif menekan produksi gas metana dalam rumen ternak ruminansia, salah satu gas yang memberikan efek rumah kaca.

Emisi gas metana (CH4) oleh hewan ruminansia dihasilkan melalui proses metanogenesis di dalam sistem pencernaan rumen oleh Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri rumen. Gas metana (CH4)juga  yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Bakteri yang ada di sekum akan keluar dari tubuh organisme bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung bahan organik akan diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).

Akan tetapi metana juga termasuk salah satu gas atmosfir yang memberikan efek rumah kaca. Walaupun komposisi metana di atmosfir jauh lebih rendah dibandingkan dengan gas karbondioksida (CO2), yaitu hanya 0,5% dari jumlah CO2, koefisien daya tangkap panas metana jauh lebih tinggi, yaitu 25 kali gas CO2. Oleh karena itu, sekitar 15% pemanasan global disumbang oleh gas metana. Dalam waktu 250 tahun terakhir, jumlah gas metana meningkat lima kali lipat dari jumlah gas CO2.

Sekitar 50% emisi gas metana hasil aktivitas manusia berasal dari kegiatan pertanian. Dari jumlah tersebut, 20-60% berasal dari peternakan, terutama ternak ruminansia. Seekor sapi dewasa dapat mengemisi 80-110 kg metana per tahun. Estimasi emisi gas metana secara global oleh ternak ruminansia berkisar antara 65-85 juta ton per tahun, sementara emisi total gas metana global 400-600 juta ton per tahun.

Menghambat Produksi Metanadalam Rumen

Di samping berdampak buruk bagi atmosfir, metanogenesis juga berpengaruh negatif terhadap hewan ruminansia itu sendiri, yaitu dapat menyebabkan kehilangan energi hingga 15% dari total energi kimia yang tercerna. Pembentukan gas metana di dalam rumen merupakan hasil akhir dari fermentasi pakan.Pada prinsipnya, pembentukan gas metana di dalam rumen terjadi melalui reduksi CO2 oleh H2 yang dikatalisis oleh enzim yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik.

 Pembentukan gas metana di dalam rumen berpengaruh terhadap pembentukan produk akhir fermentasi di dalam rumen, terutama jumlah mol ATP, yang pada gilirannya mempengaruhi efisiensi produksi mikrobial rumen. Pembentukan gas metana di dalam rumen dapat dihambat dengan memberikan beberapa zat kimia. Prinsip penghambatannya antara lain berdasarkan sifat toksik terhadap bakteri metanogen, seperti senyawa senyawa metan terhalogenasi, sulfit, nitrat, dan trikhloroetilpivalat, atau berdasarkan reaksi hidrogenasi sehingga mengurangi reduksi CO2 oleh hidrogen, seperti senyawa asam lemak berantai panjang tidak jenuh.

Beberapa ionofor seperti monensin, lasalosid, dan salinomi sin, selain meningkatkan kandungan asam propionat juga dapat menurunkan produksi gas metana. Metanogenesis dapat juga dihambat dengan senyawa kimia seperti ion Fe³ dan SO4². Populasi protozoa di dalam rumen berbanding langsung dengan produksi gas metana, artinya produksi gas metana berkurang bila populasi protozoa rumen menurun. Dengan demikian, emisi gas metana dapat dikurangi dengan memberikan zat defaunator seperti saponin.

Beberapa tanaman tropis mengandung saponin dalam jumlah tinggi, salah satunya adalah buah lerak (Sapindus rarak). Buah lerak dalam bentuk hasil ekstraksi dengan metanol telah dihasilkan Balai Penelitian Ternak dan diberi nama Aksapon SR. Formula ini mengandung saponin dengan kadar dua kali lebih tinggi daripada buah lerak tanpa diekstrak. Aksapon SR mengandung saponin 15% dan efektif menekan proses metanogenesis di dalam rumen. Dalam suatu penelitian, serbuk lerak dan Aksapon SR diformulasi sebagai salah satu komponen utama dalam suplemen rumen modifier komplit (RMK). RMK merupakan imbuhan yang dapat dicampurkan dalam ransum ruminansia untuk menekan produksi gas metana, meningkatkan efisiensi penggunaan hijauan pakan, menurunkan kadar kolesterol, serta meningkatkan produksi dan kualitas susu.

Efektif Menekan Produksi Metana dalam Rumen

Aksapon SR lebih efektif menurunkan produksi gas metana dibanding zat-zat lainnya, seperti serbuk lerak, yaitu mencapai 31%. Kemampuan serbuk lerak lebih rendah dibanding Aksapon SR walaupun dosisnya dihitung ekuivalen dengan Aksapon SR. Hal ini karena saponin dalam serbuk lerak masih terikat dengan senyawa lain.

Eliminasi protozoa rumen meningkatkan jumlah bakteri amilolitik, karena protozoa berukuran besar merupakan predator bakteri selulolitik. Dengan berkurangnya populasi protozoa maka aktivitas bakteri amilolitik-metanogen di dalam rumen meningkat, sehingga menghasilkan lebih banyak asam propionat dan lebih sedikit gas metana. Selain itu, sejumlah bakteri metanogen dalam rumen hidup dengan menempel pada permukaan dinding sel protozoa. Dengan berkurangnya populasi protozoa maka bakteri metanogen menurun karena kehilangan sebagian habitatnya.

Jadi penurunan produksi gas metana pada perlakuan Aksapon SR dan serbuk lerak diasumsikan berkaitan dengan berkurangnya populasi protozoa. Dengan demikian, buah lerak dalam bentuk produk Aksapon SR memberikan harapan untuk menurunkan kontribusi gas metana dari ternak ruminansia terhadap akumulasi gas rumah kaca (Amlius Thalib).

1 komentar:

Anonim mengatakan...

:d nice info ... kun bal yha

http://wsejati.wordpress.com/