Buah Lerak Mengurangi Emisi Gas Metana
pada Rumen Hewan Ruminansia
Senyawa saponin pada buah lerak telah berhasil diekstraksi dan
dikemas menjadi produk Aksapon SR. Senyawa ini efektif menekan produksi gas metana
dalam rumen ternak ruminansia, salah satu gas yang memberikan efek rumah kaca.
Emisi gas metana (CH4) oleh
hewan ruminansia dihasilkan melalui proses metanogenesis di dalam sistem
pencernaan rumen oleh Enzim selulase yang
dihasilkan oleh bakteri rumen. Gas metana (CH4)juga yang dapat digunakan sebagai sumber energi
alternatif. Bakteri yang ada di sekum akan keluar dari tubuh organisme bersama
feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung bahan organik akan
diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).
Akan tetapi metana juga termasuk
salah satu gas atmosfir yang memberikan efek rumah kaca. Walaupun komposisi
metana di atmosfir jauh lebih rendah dibandingkan dengan gas karbondioksida (CO2), yaitu hanya 0,5% dari jumlah CO2, koefisien daya tangkap panas metana jauh lebih tinggi, yaitu
25 kali gas
CO2. Oleh karena itu, sekitar 15% pemanasan global disumbang oleh
gas metana. Dalam waktu 250 tahun terakhir, jumlah gas metana meningkat lima
kali lipat dari jumlah gas CO2.
Sekitar 50% emisi gas
metana hasil aktivitas manusia berasal dari kegiatan pertanian. Dari jumlah
tersebut, 20-60% berasal dari peternakan, terutama ternak ruminansia. Seekor
sapi dewasa dapat mengemisi 80-110 kg metana per tahun. Estimasi emisi gas
metana secara global oleh ternak ruminansia berkisar antara 65-85 juta ton per
tahun, sementara emisi total gas metana global 400-600 juta ton per tahun.
Menghambat Produksi Metanadalam Rumen
Di samping berdampak buruk
bagi atmosfir, metanogenesis juga berpengaruh negatif terhadap hewan ruminansia
itu sendiri, yaitu dapat menyebabkan kehilangan energi hingga 15% dari total
energi kimia yang tercerna. Pembentukan gas metana di dalam rumen merupakan
hasil akhir dari fermentasi pakan.Pada prinsipnya, pembentukan gas metana di
dalam rumen terjadi melalui reduksi CO2 oleh H2 yang dikatalisis oleh enzim yang dihasilkan oleh bakteri
metanogenik.
Pembentukan gas metana di dalam rumen
berpengaruh terhadap pembentukan produk akhir fermentasi di dalam rumen,
terutama jumlah mol ATP, yang pada gilirannya mempengaruhi efisiensi produksi
mikrobial rumen. Pembentukan gas metana di dalam rumen dapat dihambat dengan
memberikan beberapa zat kimia. Prinsip penghambatannya antara lain berdasarkan
sifat toksik terhadap bakteri metanogen, seperti senyawa senyawa metan
terhalogenasi, sulfit, nitrat, dan trikhloroetilpivalat, atau berdasarkan
reaksi hidrogenasi sehingga mengurangi reduksi CO2 oleh hidrogen, seperti senyawa asam lemak berantai panjang tidak
jenuh.
Beberapa ionofor seperti
monensin, lasalosid, dan salinomi sin, selain meningkatkan kandungan asam
propionat juga dapat menurunkan produksi gas metana. Metanogenesis dapat juga
dihambat dengan senyawa kimia seperti ion Fe³ dan SO4
². Populasi protozoa di
dalam rumen berbanding langsung dengan produksi gas metana, artinya produksi
gas metana berkurang bila populasi protozoa rumen menurun. Dengan demikian,
emisi gas metana dapat dikurangi dengan memberikan zat defaunator seperti saponin.
Beberapa tanaman tropis
mengandung saponin dalam jumlah tinggi, salah satunya adalah buah lerak (Sapindus
rarak). Buah lerak dalam bentuk hasil ekstraksi dengan metanol telah
dihasilkan Balai Penelitian Ternak dan diberi nama Aksapon SR. Formula ini mengandung
saponin dengan kadar dua kali lebih tinggi daripada buah lerak tanpa diekstrak.
Aksapon SR mengandung saponin 15% dan efektif menekan proses metanogenesis di
dalam rumen. Dalam suatu penelitian, serbuk lerak dan Aksapon SR diformulasi
sebagai salah satu komponen utama dalam suplemen rumen modifier komplit (RMK).
RMK merupakan imbuhan yang dapat dicampurkan dalam ransum ruminansia untuk
menekan produksi gas metana, meningkatkan efisiensi penggunaan hijauan pakan,
menurunkan kadar kolesterol, serta meningkatkan produksi dan kualitas susu.
Efektif Menekan Produksi Metana dalam Rumen
Aksapon SR lebih efektif
menurunkan produksi gas metana dibanding zat-zat lainnya, seperti serbuk lerak,
yaitu mencapai 31%. Kemampuan serbuk lerak lebih rendah dibanding Aksapon SR
walaupun dosisnya dihitung ekuivalen dengan Aksapon SR. Hal ini karena saponin
dalam serbuk lerak masih terikat dengan senyawa lain.
Eliminasi protozoa rumen
meningkatkan jumlah bakteri amilolitik, karena protozoa berukuran besar
merupakan predator bakteri selulolitik. Dengan berkurangnya populasi protozoa
maka aktivitas bakteri amilolitik-metanogen di dalam rumen meningkat, sehingga
menghasilkan lebih banyak asam propionat dan lebih sedikit gas metana. Selain
itu, sejumlah bakteri metanogen dalam rumen hidup dengan menempel pada
permukaan dinding sel protozoa. Dengan berkurangnya populasi protozoa maka
bakteri metanogen menurun karena kehilangan sebagian habitatnya.
Jadi penurunan produksi
gas metana pada perlakuan Aksapon SR dan serbuk lerak diasumsikan berkaitan
dengan berkurangnya populasi protozoa. Dengan demikian, buah lerak dalam bentuk
produk Aksapon SR memberikan harapan untuk menurunkan kontribusi gas metana
dari ternak ruminansia terhadap akumulasi gas rumah kaca (Amlius Thalib).
1 komentar:
:d nice info ... kun bal yha
http://wsejati.wordpress.com/
Posting Komentar