Jazakumullah Khoir



_MENU "Catatan Kecil"_

Selasa, 01 Januari 2013

Masih "merenung" Belum "bertindak"

Masih tentang "Renungan" untuk diri sendiri dan berharap menginspirasi saudara-saudara. Entah memulai dari arah mana untuk "Merenung" dan mengevaluasi diri, karena memang sangat banyak kekurangannya. Jika saat ini merasa sudah berproses dalam waktu yang lama untuk hijrah ke arah yang lebih baik. Baik dimana letak sesuatu yang telah baik itu. Benarkah kita sudah menjadi sesosok insan yang "baik"?. Baik dimata siapa? Baik dari sisi mana?.

Kebaikan itu memang "relatif", tapi bagaimana dengan kebaikan akhlak?. Apakah memang relatif juga? saya rasa tidak. Akhlak itu memang tidak terlihat dengan nyata, tapi bahasa lisan, tulisan bahkan bahasa tubuh dapat melukiskan bagaimana akhlak kita.

Apakah pantas kita dikatakan "baik" jika kita masih sering membohongi diri sendiri?
Terkadang dihadapan orang banyak kita sangat terlihat baik bahkan disebut sholih/hat, IYA KAH?. Sangat berat memang... Tapi itulah konsekuensi untuk kita, ketika kita TIDAK MAMPU jujur dengan diri sendiri. Terkadang orang lain menganggap kita luar biasa? apanya yang luar biasa? jika kita tak mampu memposisikan diri dengan bijak.

Cerita ini memang muter-muter :-)

Hanya saja tujuannya, Insya Alloh tidak akan muter-muter. Hanya ingin mengajak diri sendiri untuk bermuhasabah benarkah proses bertahun-tahun ini telah membawa diri ini menjadi pribadi yang baik. Bertanya kepada diri sendiri :

Sejauh mana memiliki kesabaran dalam menghadapi keadaan sempit?

Sekuat apa menahan hawa nafsu hasil karya syetan-syetan Alloh?

Mampukah bersikap jujur ketika kita bersalah?

Sebesar apa memiliki empati kepada saudara-saudara?

Benarkah telah mampu menjaga lisan ini?

Sejauh mana berlari mendekatkan diri kepada Alloh?

Seberani apa menyerukan kebenaran dihadapan orang yang lebih (dianggap) tinggi?

Ah... hanya sekedar renungan.........
Terinspirasi KISAH PAGI hari ini....
Saya mencintai saudara saya, harusnya menasehati ketika mereka khilaf... tapi hanya bisa diam dan mendo'akan...

Senin, 25 Juni 2012

Go Ramadhan #1

Go Ramadhan!
Bertanya kepada diri sendiri, " Sejauh mana mempersiapkan diri untuk menyambut bulan nan suci?". Sudahkah ada persiapan yang matang untuk meng-GOAL-kan Ramadhan yang sukses?. Lantas apa yang sudah dipersiapkan?. Sudahkan memperbanyak puasa dibulan-bulan sebelum Ramadhan?, tilawahnya sehari udah berapa jus?. Hmmm.... emang harus yah dipersiapkan sampai segitunya? toh nanti saat Ramadhan juga akan baik-baik saja..! IYA KAH??.

Ramadhan itu bulan yang suci. Ada yang bilang Ramadhan adalah bulannya Allah SWT, ada juga yang bilang Ramadhan itu waktu yang tepat untuk beraktualisasi. Ramadhan merupakan satu-satunya bulan dimana semua harinya diistimewakan oleh Allah SWT. Semua ibadahnya istimewa dari puasa, shalat tarawih, makan sahur, bahkan tidurpun jadi ibadah (klo tidurnya sesuai kebutuhan). Ramadhan adalah bulan dimana umat Islam berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah SWT. Berlomba-lomba dalam tilawah Qur'an, berlomba-lomba dalam sedekah, berlomba-lomba dalam shalat tarawih (asal jangan berlomba-lomba untuk tidur). Eh.. ketinggalan, ternyata Ramadhan juga merupakan waktu yang tepat untuk mendapatkan "MOMENT ROMANTIS" dengan Allah SWT (siapa yang ga mau coba...???!!)

Terus... kenapa kita harus mempersiapkan diri menyambutnya? terus... dengan apa dan bagaimana mempersiapkan diri menyambut bulan ramadhan?. Eeemmm... salah satu cara untuk mempersiapkan bulan Ramadhan yang katanya itu "MOMENT ROMANTIS" dengan Allah SWT itu ternyata kita harus mempersiapka "HATI". Lho... Koq HATI yaa??.

"Dalam tubuh manusia ada segumpal daging (hati), apabila hati itu bersih maka yang lainpun bersih"

Dengan hati yang bersih maka kita akan lebih sensitif terhadap sesuatu yang baik dan atau yang batil. Nah.. kalau sudah sensitif dengan hal yang baik maka bulan Ramadhan kita akan terisi dengan amal-amal yang baik. Ayo cek hati kita masing-masing, sudahkah hati kita bersih dan siap menghadapi Ramadhan?. Caranya gimana coba?. Langkah yang Pertama kita harus insptopeksi diri atau bahasa kerennya Muhasabah. Carilah penyakit apa saja yang ada dalam hati kita (sombong, dengki, dzolim, suka berbohong dll). Selanjutnya adalah instropeksi terhadap amal-amal harian kita (tilawah, shalat sunnah tahajud, dukha, puasa sunah, dan sedekah).

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS. (59) : 18)

Nah... kendala buat kita saat bermuhasabah adalah malas dan ketidakjujuran kita terhadap diri kita sendiri. Terkadang sadar tidak sadar kita sering kali mengampuni diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, padahal Allah SWT belum tentu mengampuni dosa-dosa kita (Astaghfirullah...). Padahal nih... kejujuran kita dalam bermuhasabah itu penting, karena semakin tinggi tingkat kejujuran kita maka semakin tinggi kesadaran kita atas dosa-dosa kita dan semakin sadar untuk bertaubat.

Kalau kita menemukan sesuatu yang kurang beres dengan hati kita, maka langkah  kedua yang wajib kita lakukan adalah memperbaikinya. Memperbaiki hati yang kotor dan atau mati yaitu dengan taubat. Beristighfarlah kepada Allah SWT, karena Allah SWT akan memuji orang-orang yang beristighfar. Kemudian berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa yang dahulu untuk kemudian hari. Setelah bertaubat kita harus sering Tadabur Al-Qur'an, menjaga kelangsungan amal-amal shalih kita, mengisi waktu dengan dzikir, berkumpul dengan orang-orang shalih, berbagi kasih dengan fakir, miskin dan anak yatim, mengingat kematian (dzikrul maut) dan menghadiri majelis ta'lim. Ayo... Get Up Menyambut Ramadhan...!
Wallahu'alam...

Minggu, 17 Juni 2012

Renungan Untuk Kita

Renungan Untuk Kita

oleh Putri Meisari pada 7 Maret 2012 pukul 6:39
Mencoba bertanya pada diri kita sendiri melalui lubuk hati yang paling dalam "ketika kita dalam keadaan sempit, yang sering keluar dari mulut kita rasa syukur kah? atau justru keluh kesah?". Dalam keadaan sempit karena berbagai masalah yang menghimpit, kita cenderung akan berkeluh kesah dengan keadaan tersebut. Kita akan menganggap bahawa kita adalah orang paling berat ujiannya, bahkan makhluk paling buruk nasibnya, atau kadang menyebutkan "Tuhan itu tidak adil" (Na'udzubillah).

Disaat kita dalam keadaan yang sperti itu, coaba deh berpikir sejenak. Coba mulai renungkan, "mengapa kita dalam keadaan seperti ini?" kemudian jawab sendiri dengan pelan " Ini karena Alloh sayang pada ku". Yakinlah bahwa setiap yang menimpa diri kita saat ini, itu hanyalah sepotong episode dari panjangnya episode dalam skenario hidup kita yang dibuat oleh NYA. Dengan seperti itu kita akan terasa ringan melangkah. Intinya selalu husnudzon pada semua rencana NYA.

Ketika kita mampu tenang dengan berhusnudzon. Maka bersilaturahmilah dengan saudara2 kita yang lain. Jadilah pendengar setianya walau hanya dengan hitungan menit. Dengarkan cerita atau keluh kesahnya. Dengan sperti itu kita akan mengetahui betapa banyaknya saudara-saudara kita yang keadaannya lebih sempit dari kita. Syukurilah keadaan kita saat ini, karena sungguh ada mereka yang tidak seberuntung kita.

Ketika ada masalah dalam akademik kita, maka sungguh ada mereka yang tidak bisa sekolah
Ketika kita repot bolak-balik mengerjakan tugas, maka sungguh ada yang tidak tahu tentang ilmu dari tugas itu
Ketika kita harus memenuhi hak orang lain padahal kebutuhan kita belum terpenuhi, maka sungguh meraka lebih membutuhkan kita daripada diri kita sendiri.
Ketika kita tak mampu memenuhi kebutuhan materi kita untuk suatu hal, maka sungguh masih banyak mereka yang tidak bisa makan.
Yakinlah Alloh SWT sangat mencintai kita

_Semoga Menginspirasi_

Begitukah....???


Terinspirasi dengan sebuah kalimat yang terlontar dari saudara seperjuangan.

Sehebat apapun kita, tidak mungkin bisa FOKUS pada 2 hal dalam waktu yang bersamaan".

Ternyata kita HANYA bisa membagi-bagi waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat.

Semua itu butuh fokus dan butuh Pengorbanan.. Maka merekalah yang sesungguhnya beruntung..

Pertanyaanya adalah "APAKAH KITA MAU MENJADI ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG?"

Dan "MAUKAH KITA MEMBAGI-BAGI WAKTU KITA UNTUK HAL-HAL LAIN YANG MANFAAT UNTUK ORANG LAIN?"

Bersiap-siagalah wahai jundi-jundi Allah... Dakwah ini masih panjang...

VIRUS MERAH JAMBU

#Virus Merah Jambu


Bahasan masalah (baca : jatuh cinta) ga kan pernah kelar.. Pun berlaku untuk orang yangg berilmu.
Sejatinya terkena adalah fitrah untuk setiap manusia. Akan tetapi...???

bisa menjadi ANUGERAH ketika yang terserang adalah orang yg mmpu memanajnya dengan BENAR dn BAIK sampai ia mnjdi HALAL 
merupakan UJIAN buat kita jika datangnya bukan pada waktu dan tempat yg TEPAT
  bahkan bisa jadi musibah jika kita trlena tnpa mngingat Sang Pemilik Cinta (Allahu Yaa Rahman)
bisa berubah jadi dosa besar jika "itu" ternodai oleh NAFSU
Kebanyakan orang tau tentang dan bagaimana memanajnya, tetapi terkadang hanya sekedar teori..!!
Karena pada praktiknya memanaj memang susah, skalipun utnuk orang yang imannya tebal

Bismillah.... semoga kita trmasuk orang-orang yang mmpu memanaj sampai Alloh ridho pada kita ^^
Wallahu'alam...

Minggu, 15 April 2012

MENCARI PEMIMPIN YANG IDEAL UNTUK INDONESIA


BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Belakangan ini  muncul berbagai masalah di Negara Indonesia. Masalah yang bisa dikatakan hampir tidak diberikan solusinya. Salah satu faktor penyebab dari berbagai masalah yang ada di Negeri ini adalah lemahnya sistem kepemimimpinan di Indonesia. Kasus korupsi yang marak terjadi pada pemerintah Indonesia menunjukan lemahnya kode etik yang ada pada para pejabat pemerintah. Sedangkan untuk penerapan kode etik pejabat pemerintah seharusnya telah dicontohkan oleh pemimpinnya. Pemimimpin bangsa Indonesia sendiri masih belum mampu mencontohkan hal yang baik pada pejabat-pejabat pemerintah yang ada.
Jika seorang pemimpin saja tidak bertindak sesuai dengan kode etik maka para bawahannya akan lebih parah lagi. Saat ini di Indonesia tidak ada lagi pemimpin yang dipercaya, karena krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya. Maka dari itu para bawahannya tidak menerapkan kode etik dalam bekerja. Kemudian, tidak ada sanksi yang diberikan kepada para pejabat yang tidak berperilaku sesuai dengan kode etik. Dengan demikian Indonesia saat ini bisa dikatakan sedang mngealami krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan (Prasetyo, 2011).
Indonesia saat ini bisa dikatakan sudah kehilangan figur kepemimpinan, generasi yang ada sekarang tidak memiliki panutan yang bisa dijadikan sebagai sebuah gambaran citra diri yang di inginkannya. Pemimpin-peminpin yang ada di Indonesia pada umumnya lebih mengedepankan keinginan-keinginan pribadi, keinginan untuk berkuasa, keinginan mempunyai kedudukan tinggi, bahkan keinginan untuk menjadi kaya.
Keadaan yang seperti ini membuat Indonesia butuh sosok pemimpin yang dapat menjadi panutan untuk pejabat-pejabat pemerintahnya, panutan dan kebanggaan untuk masyarakatnya. Indonesia butuh pemimpin yang tidak memiliki keinginan menjadi penguasa tapi pemimpin yang peduli dan mendengar suara rakyatnya. Rakyat Indonesia butuh pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab seperti khalifah Umar bin Khattab dan butuh pemimpin yang dekat dengan rakyatnya agar mengetahui kondisi rakyatnya seperti Uman bin Abdul Aziz.

1.2.Perumusan Masalah
a)      Pemimpin merupakan cerminan dari masyarakat yang dipimpinnya
b)      Figur pemimpin dapat berpengaruh pada kondisi sebuah bangsa.



BAB II. ISI
Keadaan indonesia yang memiliki berbagai masalah, merupakan salah satu indikasi bahwa sistem kepemimpinan di Indonesia lemah. Saat ini indonesia membutuhkan sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azziz. Rakyat Indonesia butuh pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab seperti khalifah Umar bin Khattab dan butuh pemimpin yang dekat dengan rakyatnya agar mengetahui kondisi rakyatnya seperti Uman bin Abdul Aziz.

Umar Bin Khattab
Orang-orang muslim mengenalnya sebagai salah seorang sahabat dekat Rasulullaah Muhammad Shallaahu Alaihi Wassalaam. Salah seorang al-Khulafa’ ar-Rasyidun – para pemimpin terbaik – selain Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib dan Utsman Bin Affan. Mereka adalah para pemimpin yang tidak perlu melakukan kampanye merebut hati rakyat agar bisa menjadi pemimpin, mereka adalah orang orang yang menganggap kursi kepemimpinan bukan sebagai sebuah anugerah atau sebuah karir atau sebuah pengakuan atas puncak prestasi, mereka adalah orang orang yang menganggap kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawaban kelak di hadapan Pemimpin Para Pemimpin, yaitu Allah Yang Maha Kuasa.
Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.
Umar bin Khattab terkenal sebagai pemimpin yang amanah dan bertanggungjawab. Pemimpin yang selalu siap dikritik didepan rakyatnya dan selalu ingin dinasehati oleh rakyatnya apabila ia melakukan sebuah kesalahan. Umar bin Khattab adalah pemimpin yang selalu berusaha adil pada setiap rakyatnya dan pemimpin yang ingin melihat rakyatnya kelaparan walaupun hanya seorang saja.
Dalam sejarah disebutkan bahwa, meskipun Umar bin Khattab sebagai  kepala negara yang wilayahnya sudah meliputi seluruh Semenanjung Arabia, Mesir, Iraq, Suriah dan sebagainya, namun ia hidupnya sangat sederhana . Bahkan sebagai kepala negara ,beliau hanya tinggal di Mesjid Nabawi bukan di istana, karena para khalifah Rasyidin tersebut tidak memiliki istana  sebagaimana dicontohkan oleh pendahulunya, Nabi Muhammad SAW.  Walaupun demikian, Umar bin Khattab  setiap mengangkat para pejabatnya keberbagai daerah senantiasa dipantau dengan amat ketat. Sedangkan beliau sendiri sebagai khalifah seringkali melakukan inspeksi mendadak secara rahasia keberbagai daerah kekuasaannya ,untuk mengamati berbagai karakteristik para  pejabat sebagai bawahannya. Sebagai khalifah Rasyidin yang sudah merupakan suatu tradisi, bahwa  mereka selalu menerima  gaji kemudian  mengembalikannya  ke baital mal,dan hal itu selalu dilakukan oleh Umar bin Khatab.

Umar bin abdul Aziz
kelahiran Umar bin Abdul Aziz terjadi di tahun 61 H. Ia dilahirkan di Kota Madinah An-Nabawiyah, pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Umar bin Abdul Aziz tidak memiliki usia yang panjang, ia wafat pada usia 40 tahun, usia yang masih relatif muda dan masih dikategorikan usia produktif. Namun, di balik usia yang singkat tersebut, ia telah berbuat banyak untuk peradaban manusia dan Islam secara khusus. Ia dijuluki Asyaj Bani Umayah (yang terluka di wajahnya) sebagaimana mimpi Umar bin Khattab.
Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, adalah seorang pemimpin yang saleh, kharimastik, bijaksana, dan dekat dengan rakyatnya. Ia adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abd Syams bin Manaf, seorang imam dalam permasalahan agama dan dunia, penghafal hadis nawabi, mujtahid, laki-laki yang zuhud, pula ahli ibadah, sosok yang benar-benar layak digelari pemimpin orang-orang yang beriman. Ia dikenal juga dengan Abu Hafs, nasabnya Al-Qurasyi Al-Umawi.

Figur pemimpin yang ideal telah tergambarkan dari dua tokoh diatas, yaitu Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Di Indonesia seharusnya memiliki figur pemimpin seperti meraka, atau minimal mereka mempunyai niat memimpin negara atas kecintaan kepada Allah SWT, tidak untuk mencari kekuasaan maupun kekayaan. Jika seorang pemimpin memiliki orientasi hanya kepada Allah SWT semata, maka tidak akan ada segala tindak kedzaliman yang terjadi seperti saat ini. Pemimpin yang orientasinya hanya kepada Allah tentu memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan pemimpin yang hanya mencari kekuasaan semata. Ketika seorang pemimpin memiliki orientasi duniawi maka segala yang dilakukan hanya untuk kepentingan pribadinya atau golongan.
Seorang pemimpin yang ideal juga haruslah dekat dengan rakyatnya, mendengarkan rakyatnya dan mengetahui kebutuhan rakyatnya. Seperti yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, Ia tidak akan istirahat sebelum mengetahui rakyatnya baik-baik saja atau dalam keadaan sejahtera. Dalam konteks membersihkan jajaran birokrasinya  dari berbagai kejahatan terutama korupsi, khalifah Umar bin khatab secara  rahasia  dan  menyamar untuk mengintip kehidupan para gubernur dan pejabat lainnya.
Sedikit gambaran tentang sosok sosok agung  yang  pernah dimiliki umat manusia, dimana mereka meskipun sebagai kepala negara yang hidup dengan sangat sederhana sebagaimana ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab sendiri. Dalam menegakkan hukum beliau sangat tegas, meskipun kepada dirinya sendiri, keluarganya, serupa halnya dengan diberlakukannya kepada warga lainnya secara adil juga. Oleh sebab itu  dalam  birokrasi  seperti itu akan tercipta suatu  pemerintahan yang bersih, karena memang pemimpinnya bersih dalam berbagai aspek sosial kehidupannya.
Sebuah kepimpinan yang baik harus mampu memilah mana urusan Negara dan mana urusan pribadi dan keluarga. Sebab, apabila tidak pandai memilih dan memilah itu maka akan terjerembab pada perilaku korupsi. Pemimpin-peminpin saat ini harus belajar daris kisah kepimpinnan seorang tokoh Islam padas masa lalu, Umar bin Abdul Azis. Umar bin Abdul Aziz, adalah sosok yang tidak mau korupsi  demi untuk kepentingan pribadi atau keluarga. Ia tetap pada tatanan untuk menjadi seorang pemimpin yang rendah diri dan bersifat tawakal kepada Allah SWT. Umar berupaya keras untuk menghilangkan budaya korupsi. Melalui kisah kepimpinan Umar bin Abdul Aziz, umat Islam harus senantiasa menjaga akhlaknya dengan baik. Menghilangkan budaya korupsi merupakan salah satu upaya untuk menjaga akhlak yang dimaksudkan diatas.
Sebuah negara akan bisa terkondisikan dengan pemimpin yang amanah dan bertanggungjawab. Negara akan bebas dari korupsi apabila dipimpin oleh pemimpin yang bersih. Pemimpin negara seharusnya mencontoh bagaimana Umar bin Khattab memberlakukan jajaran birokrasinya. Pemimpin-pemimpin Indonesia saat ini seharusnya bisa meneladani kisan kepemimpinan Uman bin Abdul Aziz yang tidak ingin sedikitpun menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan kluarganya. Pemimpin negara seharusnya mengasihi rakyatnya dengan turun langsung kelapangan untuk melihat kondisi rakyatnya.


BAB III. KESIMPULAN
1.      Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz merupakan teladan pemimpin yang amanah dan bertanggungjawab.
2.      Pola kemimpinan akan mempengaruhi sistem pemerintahan.
3.      Tujuan dan orientasi seorang pemimpin akan mempengaruhi pola kepemimpinan seseorang.
4.      Pemimpin adalah cerminan dari rakyat.


REFRENSI
Anonim. 2011. Biografi Umar Bin Abdul Aziz. Kisah muslim
Nurdin, Muhamad. 2011. Meniru Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab. Kompasiana
Prasetyo, T.Y.T.. 2011. Indonesia Krisis Kepemimpinan. WaspadaOnline
Publisher. 2011. Kisah Kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz, Stop Budaya Korupsi. Trawang.com
Sukarnotomo, Sutan. 2011. Krisis Kepemimpinan Di Indonesia. H. Sutan Sukarnotomo, SH. MH..htm

Kesempurnaan Cinta Manusia


Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.
 
Sebagaimana dalam QS Ali Imron : 14 “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).”
Dalam ayat ini Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.
  Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang ” jadi Wudda (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia. Dipertegas lagi dalam QS Ar Rum : 21 “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Dalam ayat inipun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.
 
MARAHIBUL MAHABAH (TINGKATAN CINTA)
ØAl a’laqah --> kecenderungan pada hal2 duniawi (harta benda)
ØAl atfu --> simpati  pd sesama manusia karena manusia setingkat lebih tinggi dr bendaà ditujukan dg mngejak pd kebenaran (dakwah) 
ØAsy syauk --> Kerinduan --> di tunjukan kpd orang mukmin dengan kasih sayang 
ØAshobabbah --> Empati dengan Sesama muslim krn ikatan aqidah, buktinya dg brlemah lembut pd mrk dan lebih mndahulukan kepentingan mrk (HR. Buhari Muslim "Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri), ini wajib di ungkapkan.
Ø Al isqu --> Kemesraan adalah Tingkatan cinta kpd rasululloh saw (QS. Ali-Imran : 31), buktinya dg meneladani rasul 
ØAt tatayub --> Penghambaan (QS. Al Fatir 13-14), ketergantungan kpd Alloh.
 
 
 Sesungguhnya cinta dan benci karena Allah Subhanallahu wa Ta’ala merupakan pintu yang sangat agung di antara pintu-pintu kebaikan di akhirat. Dan merupakan sebab seseorang mendapatkan kelezatan iman di dunia. Sebagian orang mengira bahwa cinta dan benci merupakaan suasana hati yang tidak mampu manusia mengendalikannya. Bagaimana ia bisa memaksakan diri untuk mencintai ini dan membenci itu!?
Sebagaimana yang dimaklumi dalam
Islam bahwa hati mengikuti aqidah dan iman yang ada di dalamnya. Barangsiapa beriman bahwa Allah adalah Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul, maka ia pasti mencintai orang-orang yang mencintai Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Oleh karena itu cinta karena Allah dan benci juga karena Allah merupakan kewajiban atas setiap Muslim.
Wallahu'alam bishawab...