Jazakumullah Khoir



_MENU "Catatan Kecil"_

Minggu, 22 November 2015

MEMAKNAI KECEWA




Malam ini diberi tarbiyah lagi oleh Nya. Merasa disentil keras sekali. Entahlah... malam ini hati tergerak berkunjung ke rumah seorang sahabat. Sudah dua bulan ini tidak berkunjung. Dalam kondisi berat hati, karena merasa baru memiliki waktu dimalam hari.
Mulai menyusuri jalanan malam selepas sholat maghrib, setelah semua urusan rumah selesai. Masya Alloh keluar dari gang jalanan ramai sekali, harus bersanding dengan truk truk besar. Mungkin jalan Nasionan Pantura macet , jadi dialihkan kejalan dalam kota. Gumamku dalam hati. Okey... mulai melaju motor dengan lambat, sangat lambat karena jalanan padat. Ditengah perjalanan sempatkan mampir ke mini market untuk membeli sesuatu. Ditengah jalan aku hentikan lagi motorku, setelah mengingat bahwa Ibu dan bapak <orang tua sahabatku> suka dengan martabak manis. Beberapa menit menunggu abang martabak mebuatnya. Aku lajukan lagi kuda besiku. Samapi depan rumah aku ucapkan salam, ibu membuka pintu dan kulihat ada raut wajah yang berbeda. Antara kaget dan terharu dengan kedatangan ku. Tak ku lihat sosok sahabat dirumahnya. Memang masih ditempat kerjanya. Kudengar meraka bercerita ini dan itu. Tetiba butiran kristal dimata terasa berontak dan ingin keluar. Beberapa cerita menyayat hati dan terus teringat sepanjang perjalanan pulang.
Entah apa yang membuat persahabatan kita semakin menepi. Hati ini seringkali menolak untuk mendekat kepada mu. Bukan karena tak peduli lagi, namun rasa kecewa yang bertubi membuat setumpuk kejenuhan. Bukan ingin mengakhiri sebuah persahabatan yang sudah lebih dari 10 tahun dibangun namun kami seringkali punya alasan untuk menepi dari mu. Ingin rasanya menjadi satu satunya orang yang bertahan merangkul mu namun seringkali niatan itu lebih berbuah rasa sesak. Sesaknya membuat kami DIAM ya DIAM. Diam tak mampu bergerak, diam tak mampu berbuat sesuatu untuk mu.
Kecewa demi kecewa kamu ciptakan dari sikap mu sendiri hingga melukai hati kami para sahabat mu. Mebuat kami semakin menjaga jarak hanya demi melindungi hati tetap bersih. Entah benar atau tidak sikap kami. Yang pasti  sejak kau ciptakan pusara bernama kekecewaan mulai hari itu ketika kau ku temui kau tak mampu lagi menatap mata ku. Bukan aku yang seharusnya membuat mu menunduk dengan segala rasa mu, tapi ada Alloh yang harus kau tunduki lebih dari siapapun.

Tidak ada komentar: